Upacara Kasada Di Gunung Bromo

Upacara Kasada Di Gunung Bromo

Upacara Kasada Di Gunung Bromo Bukan Hanya Menjadi Bagian Penting Dari Identitas Budaya Masyarakat Tengger. Acara ini diselenggarakan oleh masyarakat Suku Tengger, keturunan Majapahit yang masih teguh mempertahankan tradisi leluhur mereka di tengah derasnya modernisasi.

Setiap tahun pada bulan Kasada (sekitar Juli atau Agustus), masyarakat Tengger melakukan persembahan kepada Sang Hyang Widhi dan para leluhur di kawah Gunung Bromo. Persembahan berupa hasil bumi, ternak, makanan, hingga uang dilemparkan ke dalam kawah sebagai bentuk syukur dan permohonan keselamatan. Ritual ini tidak hanya menjadi manifestasi keimanan, tapi juga simbol dari hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Asal Usul Upacara Kasada. Sejarah Upacara Kasada berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger, pasangan suami istri dari Kerajaan Majapahit yang memohon keturunan kepada dewa Gunung Bromo. Setelah mendapat 25 anak, mereka diminta mengorbankan anak bungsunya ke kawah Bromo sebagai wujud janji mereka. Sang anak, Kusuma, rela dikorbankan demi memenuhi janji orang tuanya. Sejak saat itu, masyarakat Tengger melakukan upacara tahunan untuk mengenang pengorbanan tersebut dan menjaga keseimbangan spiritual dengan alam.

Legenda ini menjadi fondasi kuat pelaksanaan upacara hingga kini. Bagi masyarakat Tengger, pelestarian tradisi ini merupakan wujud komitmen terhadap warisan leluhur yang tak ternilai harganya.

Rangkaian Upacara yang Sakral, Upacara Kasada tidak hanya berlangsung sehari. Persiapan dimulai jauh hari sebelumnya dengan ritual “pengambilan berkat” oleh dukun atau pemimpin spiritual Tengger, serta pelantikan dukun baru yang menjadi bagian penting dari struktur adat.

Malam sebelum Kasada, digelar upacara di Pura Luhur Poten, sebuah pura besar yang berdiri kokoh di tengah lautan pasir Bromo. Ribuan masyarakat Tengger berkumpul dalam suasana hening, membawa sesajen dan mengenakan pakaian adat. Mereka memanjatkan doa-doa dan puji-pujian dalam bahasa Kawi dan Sansekerta, menandai hubungan erat antara budaya Hindu Jawa dan adat lokal.

Daya Tarik Wisata Budaya

Daya Tarik Wisata Budaya. Dalam dua dekade terakhir, Upacara Kasada menjadi daya tarik wisata yang besar. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara memadati kawasan Bromo setiap tahun untuk menyaksikan upacara ini secara langsung. Pemandangan ratusan orang mengenakan pakaian adat, asap dari kawah, dan langit pagi yang merah keemasan menciptakan pengalaman spiritual dan visual yang luar biasa.

Pemerintah daerah dan pelaku pariwisata turut mempromosikan Kasada sebagai warisan budaya tak benda. Paket wisata khusus Kasada mulai ditawarkan oleh travel agent, lengkap dengan pemandu budaya dan dokumentasi profesional. Hal ini tentu membawa dampak positif bagi ekonomi lokal, terutama bagi masyarakat Tengger yang menawarkan penginapan, makanan, dan suvenir khas.

Namun, di balik kemeriahan itu, muncul kekhawatiran akan komersialisasi yang berlebihan. Beberapa tokoh adat mengingatkan bahwa Kasada bukanlah atraksi wisata biasa, melainkan peristiwa suci yang harus dihormati. Kehadiran wisatawan yang tidak memahami nilai-nilai sakral sering kali dianggap mengganggu kekhusyukan upacara.

Antara Pelestarian dan Tantangan, Upacara Kasada kini berdiri di persimpangan antara pelestarian tradisi dan tekanan modernitas. Di satu sisi, popularitasnya membawa manfaat ekonomi dan memperkuat identitas budaya Suku Tengger. Di sisi lain, nilai spiritual upacara kerap terancam oleh eksploitasi media, kerumunan wisatawan, dan pergeseran nilai di kalangan generasi muda.

Beberapa upaya telah dilakukan untuk menjaga keseimbangan ini. Pemerintah daerah bersama tokoh adat membuat aturan tata tertib bagi wisatawan, termasuk larangan mendekat ke area persembahan saat prosesi berlangsung. Sekolah-sekolah lokal juga mulai memasukkan muatan lokal tentang nilai-nilai Kasada dalam kurikulum, agar anak muda tetap terhubung dengan akar budaya mereka.

Selain itu, pelestarian dokumentasi dan penelitian akademik mengenai Kasada menjadi penting agar maknanya tidak hilang seiring waktu. Lembaga-lembaga kebudayaan mulai merekam lisan para tetua adat, memetakan filosofi upacara, dan menyusun narasi sejarah Kasada secara ilmiah.

Suara Dari Warga Tengger

Suara Dari Warga Tengger. Bagi masyarakat Tengger sendiri, Upacara Kasada adalah identitas. “Kalau Kasada hilang, hilang juga jati diri kami,” kata Pak Kardi, seorang tokoh adat dari Desa Ngadisari. Ia berharap pemerintah dan wisatawan tidak hanya datang untuk berfoto, tapi benar-benar memahami makna di balik setiap sesajen yang dilempar ke kawah.

Ibu Sulastri, pedagang makanan di sekitar kawasan Bromo, mengaku pendapatannya meningkat saat Kasada berlangsung. Namun ia juga berharap pengunjung bersikap lebih sopan dan tidak membuang sampah sembarangan. “Ini bukan pasar malam, ini upacara leluhur,” ujarnya.

Warga lain, Pak Wiryo, yang sudah puluhan tahun menjadi penjaga kebersihan di area pura Luhur Poten, menyatakan kekhawatirannya terhadap perilaku beberapa wisatawan yang tidak menghormati batas-batas sakral. “Kadang ada yang naik ke altar sesajen hanya untuk ambil foto selfie. Itu menyakiti hati kami,” tuturnya. Ia berharap pemerintah bisa menempatkan lebih banyak petugas dan papan informasi yang menjelaskan makna upacara, agar pengunjung lebih sadar dan menghargai nilai-nilai spiritual yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Tengger.

Sementara itu, generasi muda Tengger seperti Dinda (17 tahun), siswi SMA di Desa Wonokerto, mengaku bangga dengan warisan budaya yang dimiliki kampung halamannya. “Saya sering ikut membantu ibu menyiapkan sesajen dan ikut sembahyang. Saya tahu teman-teman saya ada yang mulai cuek, tapi saya tidak mau melupakan budaya sendiri,” ucapnya. Ia berharap ada program dari sekolah atau komunitas yang bisa membuat anak muda lebih terlibat aktif dalam menjaga dan melestarikan tradisi ini.

Dengan hadirnya suara-suara dari masyarakat akar rumput, terlihat bahwa Upacara Kasada bukan hanya milik para tetua adat, melainkan warisan kolektif yang menyentuh semua lapisan warga Tengger. Mereka semua memiliki harapan yang sama: agar ritual ini terus hidup, dihormati, dan tidak tergerus oleh arus pariwisata yang terlalu bebas dan tidak terarah.

Menghormati Tradisi Di Tengah Perubahan

Menghormati Tradisi Di Tengah Perubahan. Upacara Kasada bukan sekadar ritual tahunan, tetapi simbol perlawanan budaya terhadap lupa. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat Tengger mempertahankan warisan spiritual yang sarat makna. Meski tantangan terus mengintai, dari komersialisasi hingga perubahan sosial, Kasada tetap menjadi penanda bahwa di ketinggian 2.329 meter Gunung Bromo, masih ada suara-suara doa yang tulus dan nyala api tradisi yang tak pernah padam.

Sebagai wisatawan, pemerintah, atau pelaku industri pariwisata, sudah semestinya kita mendukung pelestarian Upacara Kasada bukan hanya sebagai objek tontonan, tetapi sebagai identitas budaya yang hidup dan patut dihormati.

Upacara Kasada juga menjadi cerminan resiliensi budaya lokal dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan tantangan zaman. Ketika banyak tradisi daerah mulai ditinggalkan atau terpinggirkan oleh gaya hidup modern, masyarakat Tengger justru memperlihatkan bahwa spiritualitas dan nilai-nilai leluhur tetap bisa hidup berdampingan dengan teknologi dan wisata global. Bahkan, ritual ini menjadi contoh nyata bahwa modernisasi tidak selalu harus berarti westernisasi atau hilangnya akar budaya.

Pelestarian Upacara Kasada bukan hanya tugas warga Tengger semata. Pemerintah daerah, kementerian terkait, pelaku wisata, hingga akademisi memiliki peran strategis dalam memastikan keberlangsungan ritual ini secara berkelanjutan. Diperlukan langkah-langkah kolaboratif seperti pelatihan pemandu budaya, pembuatan dokumenter edukatif, hingga pembentukan regulasi wisata berbasis adat agar nilai-nilai Kasada tidak sekadar menjadi atraksi tahunan yang kehilangan makna.

Lebih dari itu, masyarakat umum sebagai wisatawan juga punya tanggung jawab moral: datang dengan niat menghormati, bukan mengeksploitasi. Karena hanya dengan sikap saling menghargai dan memahami, warisan seperti ini dapat terus hidup tidak hanya sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai praktik budaya yang relevan, inspiratif, dan membanggakan bagi generasi mendatang melalui pelestarian nilai-nilai luhur Upacara Kasada.