Rudi Si Ojol: Bersyukur Rp 200 Ribu Meski Keluar Seharian

Rudi Si Ojol: Bersyukur Rp 200 Ribu Meski Keluar Seharian

Rudi Si Ojol: Bersyukur Rp 200 Ribu Meski Keluar Seharian Namun Kadang Jumlah Tersebut Sulit Sekali Ia Dapatkan. Di balik lalu lalang kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi di Jakarta, ada kisah-kisah pekerja jalanan yang jarang terdengar. Salah satunya datang dari Rudi Si Ojol yang masih setia mengaspal hingga 12–14 jam setiap hari. Bukan karena ambisi mengejar gaya hidup. namun melainkan karena tanggung jawab besar yang harus ia pikul. Terlebihnya sebagai kepala keluarga dengan tiga anak yang masih menempuh pendidikan. Di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rudi mengaku sudah terbiasa memulai hari sejak pagi buta. Baginya, waktu adalah peluang. Semakin lama di jalan, semakin besar harapan untuk membawa pulang penghasilan yang cukup. Tentunya bagi kebutuhan rumah tangga dan sekolah anak-anaknya. Mari kita simak kisah pilu dari Rudi Si Ojol.

Tiga Anak, Tiga Alasan Bertahan Di Jalan

Rudi memiliki tiga anak dengan jenjang pendidikan berbeda. Dua masih duduk di bangku sekolah. Sementara satu lainnya tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Meski ia menyebut biaya pendidikan masih bisa di tekan, kebutuhan seperti buku, seragam. Dan juga perlengkapan kuliah tetap menjadi pengeluaran rutin yang tak bisa di hindari. “Anak saya tiga. Masih sekolah, ada yang kuliah juga. Jadi biaya enggak terlalu besar, paling buku dan seragam,” ujar Rudi. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun menyimpan beban besar di baliknya. Setiap order yang ia terima di jalan adalah harapan. Tentunya agar anak-anaknya bisa terus belajar tanpa harus ikut memikirkan kondisi ekonomi keluarga.

Kerja 14 Jam Demi Tembus Rp 200 Ribu

Bagi Rudi, angka Rp 200.000 kini menjadi batas minimal agar hari kerjanya terasa layak. Namun, untuk mencapai jumlah tersebut, ia harus berada di jalan hingga belasan jam. Dan kondisi ini jauh berbeda di banding masa lalu saat ia belum menjadi pengemudi ojol. Sebelum banting setir, Rudi hampir 20 tahun bekerja sebagai teknisi jaringan sejak 2007. Namun perubahan kondisi kerja memaksanya mencari nafkah dengan cara lain. “Kalau dulu mungkin enggak selama ini di jalan. Sekarang harus 12–14 jam supaya tembus Rp 200.000. Kalau di bawah itu berat,” katanya. Persaingan yang semakin ketat membuat pendapatan pengemudi ojol tak lagi semudah dulu. Jumlah mitra yang terus bertambah membuat order harus di perebutkan. “Sekarang ojol makin banyak. Dulu mungkin pendapatan terasa lebih longgar. Sekarang sehari dapat Rp 200.000 saja sudah alhamdulillah,” ucapnya lirih.

Pendapatan Tergerus Biaya Operasional

Angka Rp 200.000 yang terlihat cukup di atas kertas ternyata menyusut drastis. Tentunya setelah di potong biaya operasional. Dan ia merinci, pengeluaran bensin bisa mencapai Rp 40.000 hingga Rp 60.000 per hari. Namun tergantung jarak tempuh order. Biaya makan di jalan berkisar Rp 20.000–Rp 30.000. Kemudian belum termasuk kopi atau rokok yang terkadang ia beli untuk menahan lelah. Belum lagi perawatan motor. Ganti oli rutin sebulan sekali, servis ringan. Serya kebutuhan teknis lainnya menjadi pengeluaran wajib. “Kalau di total, bersih yang benar-benar bisa di bawa pulang kadang tinggal Rp 100.000 sampai Rp 120.000,” jelas Rudi. Dan angka itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah.

Antara Rasa Syukur Dan Beban Sebagai Kepala Keluarga

Meski sang istri juga bekerja dan membantu perekonomian keluarga, sosoknya mengaku menyimpan perasaan berat. Ada rasa tidak enak dan malu karena merasa belum sepenuhnya mampu menanggung seluruh kebutuhan keluarga seorang diri. “Tapi kalau boleh terus terang, saya merasa sangat berat. Kadang minder juga rasanya sebagai suami. Karena harusnya saya yang cukupin semua kebutuhan,” ungkapnya jujur. Namun rasa lelah itu kerap ia redam dengan rasa syukur.

Selama masih bisa bekerja dan membawa pulang rezeki. Serta sekecil apa pun, ia memilih bertahan. Kisahnya mencerminkan realitas banyak pengemudi ojol di kota besar: bekerja panjang, bersaing ketat. Dan bertahan dengan penghasilan pas-pasan. Di balik angka Rp 200 ribu yang ia syukuri, ada pengorbanan waktu, tenaga. Serta perasaan sebagai seorang ayah dan suami. Ceritanya bukan sekadar soal ojol, melainkan potret keteguhan seorang kepala keluarga yang terus berjuang. Tentunya agar anak-anaknya punya masa depan lebih baik.

Jadi itu dia kisah pilu yang bersyukur dapat 200 ribu meski keluar seharian, karena beban yang ia tanggung juga tidak ringan. Maka itulah kisah pilu dari Rudi Si Ojol.